Artikel Lainnya

Barong Landung: Kisah Cinta Dua Dunia

Mar 16, 2018

Pada masa silam Barong Landung ini sering dipentaskan untuk mengusir pengaruh jahat dan membawa kedamaian serta kesejahteraan bagi warga. Namun dibalik ritual adat tersebut, Barong Landung adalah wujud perpaduan dua budaya, Bali dan Tionghoa.

Barong Landung merupakan perwujudan dari Raja Jaya Pangus, yang memerintah Panarajon (Bali) pada abad XII. Ia memperistri seorang putri berdarah Tionghoa bernama Kang Tjin We. Sayangnya pernikahan mereka tidak disetujui dan dianggap sudah melanggar adat. Akan tetapi sang raja tetap mencintai istrinya. Mereka berdua pun pergi dan membuat kerajaan baru, kerajaan Balingkang. Setelah lama menikah, mereka belum juga dikaruniai seorang anak. Raja pun memutuskan untuk bertapa ke Gunung Batur, memohon dewa di sana agar dianugerahi anak.

Dalam perjalanan bertapa, Raja bertemu dengan Dewi Danu yang cantik jelita. Raja jatuh hati padanya, lalu menikahinya dan memiliki seorang anak. Raja seakan lupa dengan istri yang sudah lama ia tinggalkan.

Kang Tjin We yang telah lama menunggu, menyusul sang raja ke tempat pertapaannya. Betapa terkejutnya Kang Tjin We melihat suaminya sudah memiliki anak dari perempuan lain, begitupula Dewi Danu sangatlah murka karena merasa dibohongi. Dengan kekuatan gaib, Dewi Danu memusnakan Raja Jaya Pangus dan Kang Tjin We dari muka bumi. Setelah menyesali kemarahan sesaat itu, Dewi Danu menciptakan sepasang Barong Landung. Ia meminta masyarakat untuk merawat serta menghormati Barong Landung. (TR – Aspertina)

Sumber gambar: Flickr

Sekretariat Aspertina
EightyEight@Kasablanka Building Floor 32nd Unit A
Jl. Casablanca Raya Kav. 88
Jakarta 12870. INDONESIA

Phone :+62 21-29820200. Fax : +62 21-29820144

Copyrights © 2011-2016. Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia. All Rights Reserved.